angindai.com platfom digital modern
Pendidikan

Partisipasi UKBI SMAN 1 Pinrang Tembus 1.140 Siswa dan Jadi Budaya Literasi Sekolah

×

Partisipasi UKBI SMAN 1 Pinrang Tembus 1.140 Siswa dan Jadi Budaya Literasi Sekolah

Sebarkan artikel ini

ANGINDAI.COM — Sebanyak 1.140 dari total 1.280 siswa SMAN 1 Pinrang atau sekitar 89,06 persen secara aktif mengikuti Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Adaptif pada pelaksanaan tahun 2026. Capaian ini menandai peningkatan signifikan dibandingkan awal dimulainya program pada tahun 2023 yang hanya diikuti oleh 347 siswa.

​Peningkatan partisipasi tersebut berlangsung secara bertahap setiap tahunnya. Pada tahun 2024, jumlah peserta meningkat menjadi 1.017 siswa, kemudian naik menjadi 1.132 siswa pada tahun 2025, hingga akhirnya mencapai angka 1.140 siswa pada tahun 2026. Kini, pelaksanaan tes tersebut tidak lagi sekadar menjadi agenda tahunan, melainkan telah diintegrasikan sebagai bagian dari asesmen kebahasaan berkala di setiap akhir semester.

​Inisiasi pelaksanaan UKBI di SMAN 1 Pinrang pertama kali didorong pada tahun 2023 oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIII, Baharuddin Iskandar, bersama pembimbing UKBI dari Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan dan Barat, Nurlina Arisnawati. Di tingkat sekolah, pelaksanaan kegiatan ini digerakkan oleh guru bahasa Indonesia, Muhammad Ali Rahman, yang berkolaborasi dengan para wali kelas dan guru bidang studi lainnya untuk memberikan pemahaman serta motivasi kepada para siswa.

​Melalui integrasi ini, hasil dan tingkat kemahiran berbahasa yang diperoleh siswa pemetaannya dimanfaatkan langsung oleh pihak sekolah. Siswa yang meraih predikat tinggi diarahkan untuk mengikuti berbagai kompetisi kebahasaan, sementara para guru menggunakan data hasil tes tersebut untuk menyesuaikan strategi pembelajaran di kelas serta memperkuat program literasi sekolah.

​Pelaksanaan tes ini juga membawa perubahan terhadap persepsi para siswa mengenai pentingnya mengukur kemahiran berbahasa. Muhammad Ashraf Rafi, siswa kelas XI SMAN 1 Pinrang, mengaku sempat meragukan perlunya tes bahasa Indonesia karena menganggap bahasa tersebut sudah digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pandangannya berubah setelah merasakan langsung proses ujian adaptif tersebut.

​”Mengikuti UKBI terasa seperti bermain game yang menantang dan membuat penasaran. Saya mulai memahami bahwa terbiasa menggunakan bahasa tidak selalu berarti telah menggunakannya dengan baik. UKBI memberi kesempatan melihat kemampuan diri sekaligus menyadari bagian yang masih perlu diperbaiki,” ujar Ashraf, Minggu (4/10/26).

​Dampak positif dari konsistensi pelaksanaan asesmen kebahasaan ini turut dirasakan pada iklim belajar dan interaksi sehari-hari di lingkungan SMAN 1 Pinrang. Siswa dan guru kini lebih peduli terhadap ketepatan penggunaan bahasa Indonesia, di mana koreksi kebahasaan dilakukan secara inklusif melalui ruang diskusi antarwarga sekolah.

​Mengenai perkembangan positif tersebut, pihak manajemen sekolah menilai bahwa pelaksanaan tes tersebut telah memberikan dorongan kuat bagi peningkatan mutu pendidikan dan kesadaran berbahasa di kalangan peserta didik.

​”UKBI telah membawa pengaruh yang luar biasa bagi kemajuan literasi di sekolah, dan mengubah cara pandang siswa tentang pentingnya bahasa Indonesia,” kata Maqbul, S.Ag., M.Pd.

​Dengan menjadikan UKBI sebagai instrumen evaluasi berkala yang berdampingan dengan program literasi, SMAN 1 Pinrang terus berkomitmen merawat dan mengembangkan kecakapan berbahasa para siswanya secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 5   +   4   =