angindai.com platfom digital modern
Budaya

Masjid Tua Tondon Enrekang, Jejak Islam dan Situs Megalitikum

×

Masjid Tua Tondon Enrekang, Jejak Islam dan Situs Megalitikum

Sebarkan artikel ini

​ANGINDAI.COM – Masjid Tua Tondon di Desa Tokkonan, Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, berdiri kokoh sebagai simbol awal masuknya ajaran Islam di wilayah tersebut.

Berusia sekitar 400 tahun, masjid bersejarah ini didirikan pertama kali oleh Nene Semi dan masih terawat hingga kini di atas perbukitan yang jauh dari pemukiman warga.

​Bangunan masjid yang menyerupai rumah panggung berbahan dasar kayu dengan atap ijuk pohon aren ini mampu menampung hingga 100 jemaah.

Meski pernah mengalami perbaikan dan satu kali rehabilitasi total akibat dinding serta atapnya dimakan usia, fungsi spiritual dari masjid ini tidak pernah surut.

​Penjaga Masjid Tua Tondon, Arsyad, menjelaskan bahwa masyarakat setempat masih rutin menggunakan masjid tersebut untuk berbagai kegiatan keagamaan maupun adat.

​”Masjid tua ini masih sering digunakan sewaktu-waktu, seperti momen Idul Fitri, Idul Adha, Salat Jumat, bahkan warga juga sering salat lima waktu di sini, ujar Arsyad.

​Selain sebagai tempat ibadah, kawasan ini menjadi pusat ritual adat budaya masyarakat Desa Tokkonan, salah satunya tradisi Maccera Manurun yang dilaksanakan delapan tahun sekali.

Pada momen yang sama, masyarakat juga melangsungkan prosesi penggantian kulit bedug masjid menggunakan kulit kerbau jantan pilihan.

​”Kerbau yang ditentukan tokoh adat disembelih di lokasi masjid. Namun sebelum diganti, kulit bedug yang lama harus dipukul-pukul sampai kulitnya betul-betul sudah robek lalu diganti. Itu merupakan sebuah tradisi kami,” kata Arsyad.

​Keunikan lain dari Masjid Tua Tondon terletak pada fondasi alaminya. Masjid ini berdiri di atas hamparan batu datar sepanjang 300 meter, lebar 100 meter, dan ketinggian mencapai 10 meter dari permukaan tanah.

Sementara area batu raksasa ini diyakini oleh para peneliti sebagai situs megalitikum atau zaman batu terbesar di Sulawesi Selatan.

​Di lokasi tersebut ditemukan ratusan lumpang batu berbagai ukuran yang diperkirakan digunakan masyarakat prasejarah untuk mengolah rempah dan obat-obatan.

Selain itu, terdapat pula berbagai goresan di atas permukaan batu serta makam-makam tua tanpa identitas yang diperkirakan milik penduduk asli pemukim batu tersebut.

​Menurut arkeolog, lubang ini digunakan orang dulu untuk membuat rempah-rempah atau obat-obatan dan satu lumpang untuk satu kepala keluarga. Karena itu ada 100 lebih lumpang dengan berbagai ukuran, tutur Arsyad menambahkan.

​Bagi wisatawan atau peneliti yang ingin berkunjung ke lokasi yang berjarak sekitar 13 kilometer atau 30 menit perjalanan dari pusat Kota Enrekang ini, aturan adat ketat berlaku. Pengunjung wajib didampingi oleh penjaga masjid atau tokoh adat setempat serta mematuhi sejumlah pantangan.

​Aturan yang harus dipatuhi antara lain melarang niat jahat, menjaga lisan dari kata-kata senonoh, melepas alas kaki, tidak mengenakan pakaian berwarna merah atau kuning, serta larangan masuk bagi wanita yang sedang haid.

​Kami sangat memegang teguh adat istiadat dan pantangan-pantangan yang sudah diturunkan oleh nenek moyang kami, dan itu harus kami lestarikan dengan baik, tegas Arsyad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan bahwa Anda manusia: 4   +   1   =