angindai.com platfom digital modern
Global

Sosok Mohammad Bagher Ghalibaf di Tengah Pusaran Konflik Iran vs AS-Israel

×

Sosok Mohammad Bagher Ghalibaf di Tengah Pusaran Konflik Iran vs AS-Israel

Sebarkan artikel ini

ANGINNDAI.COM — Nama Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mendadak menjadi pusat perhatian internasional menyusul meningkatnya tensi hubungan antara Teheran dan Washington. Ghalibaf disebut-sebut menjadi sosok kunci dalam saluran komunikasi tidak langsung yang tengah dibangun oleh Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump.

Spekulasi mengenai peran strategis Ghalibaf menguat setelah Presiden AS Donald Trump mengeklaim adanya komunikasi yang produktif dengan tokoh yang paling dihormati di Iran. Meski Trump tidak menyebutkan nama secara spesifik, sejumlah laporan media internasional, termasuk Politico, mengarahkan telunjuk pada Ghalibaf sebagai figur yang dipertimbangkan Washington untuk mengisi peran kepemimpinan di masa depan.

Pejabat di Gedung Putih dilaporkan tengah mengkaji kemungkinan menjadikan Ghalibaf sebagai mitra negosiasi utama atau bahkan kandidat Pemimpin Tertinggi Iran guna mengakhiri kebuntuan politik. Strategi ini disebut-sebut menyerupai pendekatan AS dalam krisis politik di Venezuela. Salah satu pejabat pemerintah AS menyatakan bahwa Ghalibaf merupakan salah satu opsi terbaik yang perlu diuji lebih lanjut tanpa harus terburu-buru dalam mengambil keputusan final.

Namun, Mohammad Bagher Ghalibaf secara tegas membantah seluruh klaim tersebut. Dalam pernyataan resminya, ia menekankan bahwa tidak ada negosiasi yang terjadi dengan pihak Amerika Serikat. Ghalibaf menyebut isu tersebut sebagai berita palsu yang sengaja disebarkan untuk memanipulasi pasar keuangan dan komoditas minyak, serta upaya AS dan Israel untuk keluar dari tekanan diplomatik.

Secara rekam jejak, Ghalibaf bukanlah orang baru di lingkaran kekuasaan Iran. Lahir pada tahun 1961, ia memiliki latar belakang militer yang sangat kuat sebagai mantan komandan di Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Kariernya mencakup posisi strategis sebagai Komandan Angkatan Udara IRGC, Kepala Kepolisian Iran, hingga menjabat sebagai Wali Kota Teheran selama lebih dari satu dekade sebelum akhirnya terpilih sebagai Ketua Parlemen pada 2020.

Kombinasi latar belakang militer dan pengalaman birokrasi sipil membuat Ghalibaf dipandang sebagai sosok konservatif pragmatis. Ia diketahui memiliki hubungan dekat dengan mendiang Qasem Soleimani, yang memberinya legitimasi kuat di mata kelompok garis keras dan aparat keamanan Iran.

Meski demikian, para analis meragukan apakah Ghalibaf akan benar-benar menjadi “orang Washington”. Ali Vaez, analis dari International Crisis Group, menilai bahwa sebagai orang dalam sejati, Ghalibaf memiliki komitmen fundamental terhadap kelangsungan sistem Republik Islam Iran. Hal ini membuat kemungkinan adanya konsesi besar terhadap AS tetap kecil, meskipun ia dikenal ambisius dalam melakukan manuver politik.

Kini, di tengah kekosongan kepemimpinan akibat dampak serangan militer baru-baru ini, peran Ghalibaf di Teheran semakin sentral. Ia dianggap mampu menjembatani kepentingan faksi keamanan garis keras dengan kebutuhan negosiasi strategis, meskipun retorika publiknya tetap menunjukkan sikap perlawanan terhadap entitas Barat dan pendukung militernya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prove your humanity: 9   +   7   =