ANGINDAI.COM – Pemerintah Iran melalui organisasi energi atom negara tersebut mengumumkan bahwa fasilitas nuklir Natanz telah menjadi sasaran serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu pagi, 21 Maret 2026.
Meskipun kompleks pengayaan uranium tersebut mengalami kerusakan, pihak berwenang memastikan tidak ada kebocoran bahan radioaktif yang terdeteksi di lokasi maupun lingkungan sekitar.
Pernyataan resmi yang dirilis melalui kantor berita Tasnim menyebutkan bahwa serangan tersebut menyasar kompleks pengayaan Shahid Ahmadi Roshan yang terletak di Iran tengah, sekitar 220 kilometer tenggara Teheran.
Pejabat setempat menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada material radioaktif yang terlepas ke udara, sehingga tidak ada ancaman bahaya langsung bagi penduduk yang tinggal di sekitar fasilitas tersebut.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) segera memberikan respons terhadap insiden ini. Kepala IAEA, Rafael Grossi, melalui pernyataan di platform X, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima laporan dari Iran mengenai serangan tersebut.
Grossi menegaskan bahwa berdasarkan pantauan awal, tidak ada peningkatan tingkat radiasi di luar lokasi. Ia juga menyerukan agar semua pihak menahan diri secara militer guna menghindari risiko kecelakaan nuklir yang lebih luas di kawasan tersebut.
Natanz merupakan jantung dari program nuklir Iran. Di lokasi ini, Iran diketahui melakukan pengayaan uranium hingga tingkat kemurnian 60 persen, sebuah level yang dinilai hanya selangkah lagi menuju standar penggunaan senjata nuklir.
Fasilitas ini sebagian besar dibangun di bawah tanah untuk meminimalisir dampak serangan udara dan menggunakan sistem kaskade sentrifugal canggih guna mempercepat proses pengayaan.
Eskalasi ini terjadi di tengah ketegangan yang meningkat sejak Februari 2026. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, telah memberikan peringatan keras bahwa intensitas serangan terhadap infrastruktur Iran akan ditingkatkan secara signifikan mulai pekan depan.
Menurut Katz, operasi militer gabungan antara militer Israel dan Amerika Serikat bertujuan untuk melumpuhkan kapasitas nuklir dan infrastruktur pendukung rezim Iran.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan melalui media sosial bahwa AS mempertimbangkan untuk mengakhiri operasi militer jika tujuan strategis telah tercapai.
Trump menekankan pentingnya keterlibatan negara-negara lain dalam menjaga keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi titik rawan guncangan energi global akibat konflik tersebut.
Konflik terbuka yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 ini dilaporkan telah mengakibatkan lebih dari 2.000 jiwa melayang di wilayah Iran.
Penyerangan terhadap Natanz kali ini merupakan ulangan dari insiden serupa pada Juni 2025, yang menegaskan bahwa situs tersebut tetap menjadi target utama dalam upaya pelemahan program nuklir Teheran oleh blok Barat dan Israel.























