ANGINDAI.COM – Kabupaten Wajo resmi tercatat sebagai wilayah dengan persentase rumah tangga pemilik emas atau perhiasan minimal 10 gram tertinggi di Provinsi Sulawesi Selatan sepanjang tahun 2025.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Kesejahteraan Rakyat 2025, sebanyak 53,23 persen rumah tangga di Wajo memiliki simpanan emas dalam jumlah tersebut.
Angka kepemilikan di Wajo berada jauh melampaui daerah-daerah lain di Sulawesi Selatan. Di posisi kedua, Kabupaten Sidrap mencatatkan angka 49,95 persen, disusul oleh Soppeng dengan 45,23 persen, dan Pangkep sebesar 44,80 persen.
Sementara itu, ibu kota provinsi, Makassar, berada di posisi yang jauh lebih rendah dengan angka 25,35 persen.
Secara keseluruhan, BPS mencatat rata-rata rumah tangga di Sulawesi Selatan yang memiliki emas minimal 10 gram adalah sebesar 27,54 persen.
Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan minat investasi emas yang cukup signifikan antar wilayah, di mana daerah seperti Tana Toraja berada di posisi terendah dengan hanya 11,09 persen.
Tingginya minat masyarakat Wajo dan sekitarnya terhadap emas sejalan dengan lonjakan harga komoditas tersebut di pasar global.
Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan bahwa emas perhiasan menjadi komoditas dengan andil inflasi tahunan terbesar sepanjang 2025, yakni mencapai 0,79 persen.
Bahkan, secara akumulatif, harga emas mengalami inflasi yang sangat tajam hingga menyentuh angka 58,98 persen pada Desember 2025.
Amalia menjelaskan bahwa emas menjadi penyumbang inflasi bulanan sebanyak 11 kali selama setahun penuh pada 2025 kemarin.
Fenomena ini membuktikan bahwa masyarakat di Sulawesi Selatan, khususnya di wilayah Wajo dan Sidrap, masih memegang teguh preferensi emas sebagai instrumen investasi utama dan penyimpan nilai (store of value) yang paling aman di tengah fluktuasi ekonomi.
Tren kenaikan harga ini terpantau terus berlanjut hingga awal tahun 2026. Berdasarkan data terbaru per 27 Januari 2026, harga emas batangan Antam telah mencapai angka Rp 2.917.000 per gram.
Kenaikan harga yang konsisten ini semakin memperkuat alasan warga untuk tetap menjadikan logam mulia sebagai aset kekayaan utama mereka.
Menariknya, Kabupaten Luwu yang dikenal memiliki wilayah pertambangan emas justru mencatatkan angka kepemilikan yang relatif rendah, yakni hanya 14,01 persen.
Hal ini mengindikasikan bahwa kepemilikan emas lebih didorong oleh daya beli dan budaya investasi masyarakat setempat dibandingkan dengan kedekatan geografis terhadap sumber tambang.

























