angindai.com platfom digital modern
News

Abrasi Pantai Terus Menghantui Warga Pesisir Serang Pinrang, 50 KK Terdampak

×

Abrasi Pantai Terus Menghantui Warga Pesisir Serang Pinrang, 50 KK Terdampak

Sebarkan artikel ini

ANGINDAI.COM – Ancaman abrasi pantai akibat pasang air laut ekstrem terus menghantui masyarakat pesisir di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.

Tercatat sedikitnya 50 kepala keluarga di Lingkungan Ujung Baru Serang, Kelurahan Data, Kecamatan Duampanua, kini terdampak langsung oleh terjangan ombak besar yang merusak hunian serta infrastruktur publik.

Kondisi lingkungan yang kian memprihatinkan memaksa sejumlah warga meninggalkan rumah mereka untuk mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Meski demikian, sebagian warga lainnya memilih tetap bertahan di kediaman masing-masing di tengah kekhawatiran akan adanya abrasi susulan yang sewaktu-waktu dapat menghancurkan bangunan mereka.

Fenomena pengikisan garis pantai ini telah mengakibatkan kerusakan parah pada infrastruktur vital, termasuk jalan lingkungan yang kini tidak dapat dilalui secara normal.

Selain akses transportasi, terjangan ombak juga menghancurkan fasilitas sanitasi seperti WC umum dan merusak struktur utama rumah-rumah warga hingga tidak layak huni.

Menurut kesaksian warga setempat, daratan yang kini telah hilang tertelan laut dahulunya merupakan kawasan pemukiman padat.

Krisis abrasi di Lingkungan Ujung Baru Serang, Pinrang kian mengkhawatirkan. 50 KK terdampak, infrastruktur hancur, dan warga mendesak pembangunan tanggul permanen - angindai.com
Krisis abrasi di Lingkungan Ujung Baru Serang, Pinrang kian mengkhawatirkan. 50 KK terdampak, infrastruktur hancur, dan warga mendesak pembangunan tanggul permanen – angindai.com

Dalam beberapa tahun terakhir, setidaknya sudah ada tiga baris rumah yang hilang, memaksa pemiliknya untuk memindahkan bangunan mereka secara mandiri agar tidak tersapu arus.

“Disini sudah ada tiga susun rumah ke belakang, ada sekitar lima atau enam rumah sudah dipindah gara-gara ombak. Harapan kami mudah-mudahan cepat dibantu, bantuan seperti bronjong, tanggul, atau grip pemecah ombak,” kata Syamsul Bahri warga setempat kepada angindai.com, Senin (5/1/2026).

Warga menyebutkan bahwa ketiadaan fasilitas penahan ombak atau tanggul permanen menjadi penyebab utama air laut dengan mudah merangsek masuk ke jantung pemukiman.

Masyarakat sangat berharap pemerintah segera memberikan bantuan nyata berupa pembangunan bronjong, tanggul, atau grip pemecah ombak guna meminimalisir dampak kerusakan.

“Kami sangat mengharapkan adanya tanggul, beronjong atau grib pemecah ombak agar dampak kerusakan tidak semakin parah,” ungkapnya.

Sementara itu, Lurah Data, Rabaisah, mengonfirmasi bahwa dari total 70 kepala keluarga yang ada di wilayah tersebut, sebanyak 50 di antaranya terdampak langsung oleh bencana ini.

“Ada sekitar 50 KK yang terdampak langsung dari abrasi,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa setiap kali gelombang tinggi terjadi, air laut dipastikan masuk hingga ke kolong rumah warga dan mengancam keselamatan jiwa.

Pihak kelurahan mengaku telah berulang kali melaporkan kondisi kritis ini kepada instansi terkait, mulai dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pinrang hingga Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang.

Namun, hingga saat ini, usulan pembangunan tanggul yang telah diajukan sebanyak tiga kali tersebut belum membuahkan hasil atau realisasi bantuan.

“Kami sudah buat laporan ke BPBD Pinrang hingga saya sudah 3 kali ke BBWS Pompengan Jeneberang. Namun hasilnya belum ada,” jelasnya.

Saat ini, pemandangan di lokasi menunjukkan sejumlah rumah dalam kondisi terbengkalai setelah ditinggalkan pemiliknya.

Selain pembangunan fisik penahan ombak, warga juga mendesak pemerintah daerah untuk menyediakan lahan relokasi yang aman bagi keluarga yang telah kehilangan tempat tinggal akibat bencana tahunan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prove your humanity: 8   +   1   =